JEJAK MATAHARIKU
Oleh : Dra.Dyah Dhomi Eko W
Mentari pagi masih enggan mengintip dari balik awan yang bergerak cepat memburu waktu yang tersisa, kokok ayam bersahutan dari ujung desa, sekelebat pandang terasa lenggang dan sunyi dari penghuninya rupanya masih bergelut dalam mimpi indah melukis dalam laut teduh tidurnya.
Jam di dinding menunjukkan pukul 04.00 Wib.Hari masih gelap kuingin cepat menjengguk anakku di pondok pesantren salafiyah syafi'iyah Sukorejo- Situbanda. Meskipun dari jarak jauh tidak masalah tak terasa adzan berkumandang merdu dari masjid Al Azhar mengajak semua hamba Allah muslim menunaikan ibadah.
Kubasuh tubuhku dengan guyuran air dari pancuran belakang rumah terasa dingin mengigit tak kurasa yang ada hanya rasa bahagia karena anakku wisuda alqur'an beberapa bulan yang lalu lulus uji alqur'an dan kitab.Semangat ketemu putriku, memacu aktivitas pagiku, kamipun sholat subuh berjama'ah disurau dekat rumah kami.
🍀🍀
Masih kuingat terasa masih kemarin sore saat anakku Mawar Nur jannah Prajawati, minta makanan kesukaannya yaitu permen coklat selalu ada nyanyian kecil untukku berjudul "mama" atau semua ruangan dibersihkan setelah sholat subuh dan menyisipkan puisi - puisi keren untukku isinya tentang si permen coklat dengan diksi yang indah.
Pulang sekolah akan kubawakan permen untuk ketiga anakku dan buku cerita pahlawan nasional. Biasanya untuk cerita dan diskusi ketiga anakku, Kakaknya si pemberani dan menjadi komandan adik- adiknya.Selalu membuatkan jadwal harian adiknya, selisih mereka lumayan jauh sepuluh tahun jadi kakaknya selalu memandu kegiatan adiknya saat dirumah kalau pulang mainpun dengan kakak dibuat aturan harus tepat waktu, di saat itu sering kali adiknya yang ragil protes tentang aturan kakaknya. Masih terasa dekapan tangan mungil si kembang kuning ragilku saat hatinya gundah atau sedih mengadukan perihal kakaknya yang otoriter kata nduk Mawar si kembang kuningku.Selalu kutenangkan dengan memberi pengertian kalau si kakak itu akan melatihmu menjadi orang yang tanggung jawab dan disiplin, ambil sisi baiknya dan hilangkan yang tidak baik atau yang tidak kamu senangi saranku pada nduk mawar.
Anganku melayang jauh kenangan anakku masa kecilnya selalu banyak celoteh dan gerak ringannya memutari di setiap sisi ruangan rumah ini tiada lelah.
🍀🍀
Terasa ada dekapan lembut membangunkan dari dunia lamunan.
"Dik sudah matang masakannya untuk anakmu di pondok", tanya suamiku mengingatkan aku. Tanganku menunjuk almari dari kaca,
"Itu Yah, selesai semua tinggal bersih - bersih dan berangkat," Jelasku. Suamiku membantuku berbenah ada udang asam manis, ayam betutu, telur asin , sayur, buah naga dan jambu delhi hasil kebun sendiri. Kamipun berangkat dengan sepeda montor buntut kami, karena mobil kami dipinjam kakak belum dikembalikan sampai sekarang.
Semoga keihklasan kami ada hikmahnya dari yang kuasa disepanjang jalan kami sharring tentang masyarakat madura Situbanda membaca dari tatanan kehidupan sosial masyarakatnya disepanjang jalan celoteh kami obat lelah kami dan penghilang kantuk.
🍀🍀
Kota situbanda bermahkota mendung kami berkejaran dengan hujan alhamdulillah, terlihat tugu kokoh yang indah penuh kaligrafi menggambarkan kota santri ciri Tugu Pondok Pesantren tempat anakku menimba ilmunya Allah.
Dari jauh kulihat persiapan wisudanya sudah finis, alhamdulillah anakku wisuda bareng kakak kelasnya.
Ustazahnya ada yang memberitahu kalau ragilku Mawar si Kembang kuning julukannya nilainya termasuk unggul menurut beliau baru kali ini menemui santri yang berani dan pintar saat diuji Alqur'an, kami bersyukur karena anakku jadi anak yang amanah sujud syukur, kulakukan untuk keberhasilan anakku prestasi yang tak ternilai karena ustazahnya semua mengacungkan jempol pada anakku Ragil, si kembang kuning dari banyuwangi semoga ilmunya barokah dan bermanfaat. Aamiin.
Salam kenal bu
ReplyDeleteMaasyaa Allah turut bangga bun atas prestasi putrinya 🤗😍
ReplyDeleteSmoga ananda sehat slalu, smakin sukses, aamiin
Turut berdukacita Bu Dyah
ReplyDeleteBagus cerpennya
ReplyDeleteIkut bahagia bunda Dyah. Barakallah, semoga menjadi alim alama.
ReplyDelete