Berlapang Dada
Oleh:
Dra. Dyah Dhomi Eko Wulandari
Saat angin semilir menerpa wajah Ani, Ya Tuhan, kelelahan tak menghapus senyumnya yang indah itu. Rasa penuh kagum orang tua Ani kepadanya. Sejenak Ani sandarkan kepalanya ditembok. Ada rasa haru menyelinap di hati pak Tata. Terhenyak Ani pikirannya melayang ke masa itu. Dirinya menjadi duta Seni dari Kabupaten Banyuwangi, bertahun –tahun dirinya nyaris tak pernah absen latihan menari di pendopo Sempu yang melatih penari senior yaitu gandrung Poniti.Tak disadari Ani, Bapaknya mengelus rambut putri semata wayangnya
.“Ada apa nduk, kok melamun gitu,“ sapa pak Tata sambil melirik tipis terlihat awan hitam di wajah Ani putrinya itu.
”Bapak, apa aku masih punya harapan,” tanya Ani sedih. Sejak Ani gagal menjadi juara dalam perlombaan tari daerah sekabupaten Banyuwangi yang dialami sebulan yang lalu, semua cita- citanya menjadi penari hangus lenyap bagai tertelan bumi, Ani sering sakit- sakitan.
” Nduk, kata siapa kamu tidak mempunyai masa depan,” jawab Bapak Tata. Tak lama Ibu datang dengan membawa minuman kesukaan Ani, wedang jahe. Syal di leher anaknya dibenahi ibu Tata duduk tepat didepannya kecerdasan anak kelas V terpancar jelas di aura wajah Ani, kamu masih bisa menari lagi Nak,“ jelas ibunya.
”Kamu masih bisa menjadi penari ternama asalkan tetap rajin berlatih, kamu bertalenta Insya Allah dengan ijin Allah kamu pasti menjadi penari yang terkenal di kancah Internasional,
“Ibunya menyemangati Ani. Membuat Ani bisa berlapang dada meski kalah dalam perlombaan di Kabupaten bulan lalu dan Ani percaya mampu meraih masa depannya menjadi penari terkenal.
Comments
Post a Comment