15. Menghargai Asisten Rumah Tangga, karena Semua Manusia adalah Sama
Oleh : Dra. Dyah Dhomi Eko Wulandari
Di depan gerbang sekolah SD Sraten 5 Cluring mulai kulangkahkan kaki menyambut mentari yang tersenyum simpul mengintip dari sela dedaunan taman sekolahku. "Asih pr mu sudah selesaikah? Nomor 5 aku belum belum bisa menyelesaikan?" Tanya Nina. "Sudah selesai, pinjam?" Jawabku bukuku sudah pindah ketangan ke Nina. Hari ini satu persatu pelajaran berjalan dengan lancar dan lonceng pulang membuat kami balapan keluar dari kelas. Siang ini mobil jemputanku sudah datang, Nina ikut pulang karena sopirnya tidak datang. Belokan ketiga sudah nyampai rumah Nina setelah Nina turun belok kiri sudah sampai Jln.Thamrin rumahku sudah tampak di depan mata. Pintu pagar rumahku terbuka, tidak terasa telah tiba di depan pintu rumahku "Assalammualaikum bibi," Salamku seperti dulu dengan suara keras, dari dalam kudengar suara lembut membalas salamku. "Wassalammualaikum, anakku cah ayu datang to" balas Bundaku. " Walah cah ayu, capek ya?" tanya bunda, kulihat Bibi tergopoh- gopoh membawakan tasku. "Terlambat selalu terlambat, kok kayak semut aja," Kataku agak jengkel. " Bi, cepat siapkan bajuku setelah itu masakkan kesukaanku Mie telor hangat tidak boleh panas, mengerti bi!" Kataku agak keras Bibi Nur mengangguk dengan kepala menunduk ketakutan. Bunda langsung menenangkanku dan duduk di kursi sambil mengelus rambutku "Asih kamu tidak boleh bersikap begitu ke Bibi Nur karena Asisten rumah tangga, adalah manusia sama dengan kita nak kita harus menghormatinya," jelas Bunda membuatku tertunduk malu dan minta maaf ke Bibi Nur berjanji tidak mengulanginya.
Comments
Post a Comment